Bagikan

AksaraKata.com: Dalam suatu perkara bersengketa, selalu ada pihak ketiga yang mencoba memanfaatkan peluang-peluang yang mungkin menguntungkan kelompok atau pribadi. Seperti yang terjadi pada sengekata penutupan Lokalisasi Dolly-Jarak, ada warga luar yang mengaku warga sebagai warga Dolly-Jarak untuk mendukung aksi penutupan lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu.

Sayangnya aksi yang hendak mereka lakukan diketahui oleh warga asli Dolly-Jarak. Spontan, aksi palsu yang mereka galang itu mengundang protes penghuni dan pekerja lokalisasi.

Ketua RW 11, kelurahan Putat Jaya, Sutohari mengatakan, “Aksi demo yang dilakukan warga mendukung penutupan lokalisasi Dolly-Jarak ini bukan murni dari warga kami. Apalagi sudah ada imbalan sembako, ya akhirnya diprotes warga penghuni dan pekerja Dolly-Jarak,” katanya.

Saat aksarakata.com melakukan penulusuran dan wawancara langsung Sutohari, ia membenarkan bahwa, ada sekelompok orang yang mencoba memanfaatkan momen ini. Awalnya Sutohari menanyakan pada salah satu warganya yang mendapatkan bingkisan sembako dan uang sebesar Rp30 ribu per orang.

Melihat warganya yang menerima sembako, Sutohari tidak lantas berdiam diri. dirinya menelusuri sembako tersebut berasal dari siapa?

Bahkan, masih dikatakan Sutohari, ada warganya yang mengaku, kalau sembako tersebut berasal dari salah satu capres.

“Dengan seksama saya mencoba mencari tahu, dari mana asalnya sembako tersebut. ternyata, sembako plus uang Rp30 ribu itu bukan dari salah satu capres, melainkan berasal dari kantor Kecamatan Sawahan, yang pro terhadap penutupan lokalisasi Dolly-Jarak,” jelas Sutohari.

Sembako tersebut, lanjut Sutohari, sebagai upah untuk melakukan aksi demo penutupan Dolly-Jarak. Untuk uang Rp30 ribu akan diberikan pada warga yang ikut aksi, setelah mereka membubuhkan tanda tangan dispanduk panjang sebagai bentuk dukungan pro terhadap penutupan lokalisasi Dolly-Jarak.

“Mereka dijanjikan kalau uangnya akan dicarikan setelah ada tanda tangan di spanduk,” kata Sutohari.

Menurut Sutohari, diperkirakan waktu itu ada terkumpul masa sekitar 150 orang yang mayoritas terdiri dari kaum perempuan dan anak-anak. Sedangkan sembako yang hendak dibagikan sejumlah 300-400 bingkisan sembako.

“Ternyata setelah saya mencari tahu, orang-orang hendak melakukan aksi penutupan Dolly-Jarak itu bukanlah warga RW 11, melainkan dari warga Mataram. Memang Mataram itu masih satu kelurahan, namun mereka bukan termasuk warga yang terimbas penutupan Dolly-Jarak, mas,” kepada aksarakata.com.

Dengan adanya kejadian tersebut, warga Putat Jaya sangat menyayangkan, kenapa ada oknum yang menunggangi. Terkait insiden itu pula, warga Dolly-Jarak menduga, bahwa ini ada campur tangan dari pemerintah kota Surabaya.

“Sementara warga menduga, pihak pemerintah kota Surabaya, terutama dari lembaga Dinsos,” paparnya lagi.

Sutohari selaku ketua RW 11 berharap, harusnya pemerintah kota Surabaya benar-benar memperhatikan warga yang terdampak atas penutupan tersebut. Terlebih lagi ada cara-cara yang kurang baik, dengan melakukan penggalangan masa tanpa sepengetahuan warga setempat.

Dikutip dari berita harian ternama, terkait aksi oleh warga di luar Dolly-Jarak itu akhirnya mendapat tanggapan dari Kabag Humas Pemkot Surabaya, Muhammad Fikser, mengelak jika pemkot menggerakan aksi tersebut. Menurutnya, memberikan sesuatu pada warga untuk memuluskan kebijakan itu bukanlah sifat Dan tabiat pemkot.

“Jadi jika pemkot dituding berusaha mempengaruhi warga dengan memberi bantuan sembako dan uang jelas tidak benar,” kata Fikser pada media harian cetak.ang

Aksi Dukung Penutupan Dolly-Jarak, Ditunggangi
Ditag pada:11    Aksi    Batal    Diprotes    Diprotes Warga    Ditunggangi    Dolly    Dolly-Jarak Batal    Dukung    Jarak    Jaya    Kota    Pemerintah    Penutupan    Putat    RW    Surabaya    Sutohari    Warga

Tinggalkan Balasan

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline