Punk Marjinal Taring Babi, Anti Rokok

Bagikan

AksaraKata.com: “Bro, jangan merokok di dalam rumah,” kata Bobby Firman Adam, pendiri komunitas punk Marjinal Taring Babi, lalu mengarahkan tamu yang hendak ditato ke luar rumah komunitas.

Kepulan asap rokok tak ada lagi di ruangan tempat Bobby (36) merajah tubuh pasiennya menggunakan jarum bertinta. Asbak telah berganti dengan kotak plastik tempat membuang bungkus permen karet.

Ruangan bercat putih itu kini tampak seperti kamar klinik dengan kursi panjang yang ketinggiannya bisa diatur dan meja kerja dengan seperangkat alat tato dan puluhan bungkus sarung tangan steril. Beberapa sertifikat pembuat tato dari Indonesia, Jepang dan Jerman ditempel di dinding ruangan.

Asbak dan ceceran abu rokok yang biasanya menjadi bagian ruang tamu rumah komunitas itu sekarang juga sudah tidak ada. Ubinnya pun putih mengkilap, tanpa sampah. Di sudut ruangan tergantung sapu ijuk dan kain pel dari kaus bekas.

Dinding rumah komunitas yang setahun lalu disesaki coretan, tulisan, lukisan, dan poster sekarang sebagian sudah dicat biru langit, dan sisanya sedang menunggu polesan warna lain.

Tempelan stiker dengan macam-macam tulisan juga tak ada lagi di pintu kayu rumah dua lantai di Jalan M Kahfi 2, Jagakarsa, Jakarta Selatan itu.

“Perubahan ini untuk kebaikan kami, untuk lebih tertib setidaknya di rumah sendiri,” kata Bobby, yang sedang menyiapkan album baru untuk Marjinal Taring Babi.

Ia lantas menuturkan bahwa perubahan komunitasnya terjadi setelah mereka main musik di beberapa kota di Jepang pada Mei hingga Juni 2014 atas undangan dari Ayumi Nakanishi, fotografer yang mendokumentasikan kehidupan punk di Jakarta dalam foto cerita dan film dokumenter sejak 2007 hingga 2013.

Menurut Bobby, yang tubuhnya penuh tato, kunjungan ke Jepang membuat anggota komunitasnya belajar banyak tentang komunitas punk di negara lain.

“Budaya punk di Jepang itu unik,” katanya kemudian mengunyah biskuit cokelat dari toples kue Lebaran di teras rumah komunitas itu.

“Di Jepang kalau mau mabuk itu mikir, mikir kesehatan, mikir keselamatan, mereka berani menolak minuman keras dan rokok jika membahayakan. Meskipun punk, hidup mereka bersih dan peduli kesehatan,” katanya.

Ayah dari satu anak yang tinggal tidak jauh dari rumah komunitas Marjinal Taring Babi itu mengaku kaget ketika penyelenggara konser mengajak dia dan kawan-kawannya periksa kesehatan mulut ke klinik gigi usai manggung di kota Toyota, Jepang.

“Gue di-scan, dilihat kesehatan mulutnya dan empat akar gigi gue yang tersisa ini dicabut, katanya sih kesehatan mulut itu sangat penting di Jepang,” kata Bobby lalu membuka mulut dan menunjukkan beberapa giginya.

Selama mengunjungi Negeri Sakura, Bobby juga berkesempatan menimba ilmu membuat tato di studio Tokyo Hardcore Tattoo.

“Di Jepang, seniman tatonya juga mengutamakan kesehatan. Untuk sekali menggambar mereka bisa mengganti sarung tangan berkali-kali. Ruangannya pun seperti pratek dokter, bersih dan steril,” katanya.

Bobby ingin sekali kembali ke Jepang untuk mendalami ilmu merajah tubuh di negeri itu.

“Di Jepang sangat profesional, sebelum ditato pun ada semacam perjanjian mengenai risiko di kemudian hari yang harus disepakati,” katanya.

Bobby menambahkan, seniman tato di Jepang mendapat bayaran 12.000 yen sampai 30.000 yen (Rp1,4 juta – Rp3,4 juta) per jam sementara pembuat tato Indonesia bayarannya antara Rp4 ribu sampai Rp12 ribu per sentimeter tato.

Membawa yang baik
Anggota Marjinal Taring Babi menyukai perubahan baru dalam komunitas yang menurut mereka membawa kebaikan dan tidak menghambat kegiatan komunitas dalam menyablon, membuat tato, mengukir kayu, melukis, serta membuat poster stiker dan kerajinan tangan lain.

“Sampai saat ini masih canggung tapi yang baik harus didukung,” kata Erwan (40), yang lebih suka dipanggil Ewank, anggota komunitas punk yang terbentuk 22 Desember 1997 tersebut.

Ewank mengatakan selain membatasi rokok, komunitas juga membersihkan rumah, toilet, melepaskan stiker di pintu dan jendela, mengecat ulang tembok, menyediakan tiga tempat sampah permanen yang terbuat dari besi berdiameter satu meter, serta melancarkan saluran pembuangan air limbah rumah tangga.

Ia mengatakan komunitas tidak memberikan hukuman kepada yang anggota melanggar karena menjaga kebersihan tempat tinggal merupakan komitmen mereka untuk hidup sehat.

“Lihat perbedaannya, jadi lebih bersih dan nyaman, mau berproduksi apa saja tidak terganggu. Lagi pula kesehatan juga modal kita untuk terus berkarya,” katanya.

Jerome Kinzel, gitaris band punk Hobo Erectus dari Prancis, mengatakan penerapan gaya hidup bersih dan sehat dalam komunitas punk merupakan langkah maju untuk mengurangi keborosan akibat kecanduan rokok, obat dan alkohol.

Pria yang sedang berlibur di Jakarta untuk mengunjungi komunitas Marinal Taring Babi itu mengatakan gaya hidup bersih dan sehat sudah dijalankan beberapa komunitas punk di Eropa sejak beberapa tahun yang lalu.

“Gagasan yang brilian bagi individu punk yang memutuskan untuk hidup sehat karena beberapa puluh tahun mendatang mungkin punk bisa hilang jika sebagian pemudanya semakin konsumtif membeli rokok, bir, dan melakukan gaya hidup tidak sehat,” ujar Jerome, yang sudah mengunjungi banyak komunitas punk di Eropa dan Asia.an/Randi

bambang Penulis

Tinggalkan Balasan