Gadis SMA Dijual, Mucikari Dijebak

Bagikan

AksaraKata.com: Sebut saja Melati (bukan nama sebenarnya) (17), siswi salah satu SMA Negeri di Lewoleba, Kabupaten Lembata, dijual Rp300 ribu kepada Sumirah (40), seorang mucikari di Maumere, Ibukota Kabupaten Sikka.

Menurut Sumirah, saat dirinya bertemu dengan Melati melalui Jalil alias Bregi yang saat itu menawarkan pada dirinya agar mau membeli Melati. Setelah usahanya membeli Melati dari tangan Jalil, lalu ia mempekerjakan Melati pada salah satu tempat caffe.

Selama ini Melati diketahui orangtuanya tinggal di salah satu tempat kos bersama temannya sebut saja Nonik (18). Nonik yang mengetahui kalau Melati lama tidak pulang ke tempat kos, akhirnya Nonik pun berusaha mencari tahu dengan menghubungi orangtua Melati, sebut saja Erna.

Setelah Nonik memberitahukan kepada Erna, kalau putrinya belum pulang ke tempat kos selama tiga hari.

Mendengar kabar tersebut, Erna langsung panik dan ia langsung menghubungi semua keluarga dekatnya. Pihak keluarga pun mencari tahu keberadaan Melati yang dikabarkan lam tidak pulang ke tempat kosnya.

Tak urung, Erna dan keluarganya pun mendatangi tempat kos putrinya di Lewoleba. Sesampai dilokasi kos putrinya, Erna langusng memburu informasi terkait keberadaan purtrinya terkahir kali.

Informasi yang di dapat Erna dari teman Melati, bahwa putrinya tidak pulang ke tempat kos sejak 3 September 2014. Setelah penggalian informasi terus dilakukan, akhirnya ditemukan kabar bahwa terakhir kali Melati bepergian bersama seorang oknum pemuda bernama Jalil alias Bregi yang berdomisili di Kampung Nyamuk, Wangatoa.

Saat itu juga keluarga korban mendatangi Bregi di kediamannya di Wangatoa. Namun, pertemuannya dengan Bregi tidak lantas menemukan Melati. Pasalnya Bregi saat itu mengaku pada kelurag Melati kalau Melati tidak dengan dirinya.

Mendengar pernyataan Bregi, keluarga Melati langsung memberikan peringatan agar Melati segera dikembalikan. Mendengar permintaan dari pihak Melati, Bregi akhirnya menyanggupi tuntutan itu.

Bregi mengaku kalau dirinya mau mengembalikan putrinya setelah ada tebusan uang dari pihak keluarga sebesar Rp800 ribu. Hal tersebut disampaikan Bregi, kalau uang tersebut dipakai biaya akomodasinya untuk menemukan Melati, yang saat itu sedang berada bersama seorang wanita bernama Sumirah.

Merasa diperas, pihak keluarga Melati tidak mau memenuhi syarat yang ajukan Bregi. Akhirnya pihak keluaga pun memaksa Bregi agar dirinya mau memberikan nomor telepon milik Sumirah. Bregi pun menyerahkan nomor HP Sumirah, namun tidak lama kemudian ia menghilang.

Setelah mendapatkan nomor telepon Sumirah, salah keluarga Melati mencoba menghubugi Sumirah. Ternyata nomor telepon yang diberikan Bregi benar kalau nomor itu adalah nomor Sumirah.

Pihak keluraga pun mengatur siasat untuk mendapatkan agar Melati kembali. Mereka pun mencoba menghubungi Sumirah. Pihak kelurag mangaku kalau dirinya adalah salah satu agen yang menyediakan jasa gadis-gadis di bawa umur yang bisa dikerjakan di tempat karaoke dan pria-pria yang membutuhkan.

Mendengar hal tersebut Sumirah pun tanpa pikir panjang lagi ia langsung berusaha mengajk pertemuan. Sumirah pun langsung meninggalkan Maumere menuju Larantuka hari itu juga. Selanjutnya dari Larantuka, Sumirah menuju Lewoleba dengan pelayaran kapal motor pada sore hari.

Setelah tiba di Lewoleba, Sumirah terlebih dahulu melepas lelah setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam dari Larantuka. Sumirah adalah warga asal Lembata, yang berdomisili di Kampung Nyamuk, Wangatoa, Lewoleba.

Tak menyangka akan drama penjebakan dirinya, malam itu Sumirah menanti kedatangan orang tua Melati yang  telah berjanji membawa dua wanita untuk diserahkan kepadanya. Saat orang tua Melati datang, Sumirah tak berkutik. Karena malam itu orang tua Melati membawa serta beberapa aparat keamanan.

 

Diamankan Aparat

Kasat Reskrim Polres Lembata, Iptu Abdul Rahman Aba, S.H melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Brigpol Mirani Mukhlis, membenarkan adanya kasus trafficking tersebut. Ia menyebutkan bahwa kasus tersebut sedang ditangani.

Selasa 16 September 2014 siang, Mirani mengungkapkan di Mapolres Lembata, bahwa kasus perdagangan orang itu terkuak ketika keluarga Melati menjebak Sumirah, sang mucikari yang mempekerjakan Melati sebagai pekerja seks di salah satu tempat karaoke di Maumere.

Menurut keterangan pihak kepolisian, malam itu Sumirah hendak berusaha melarikan diri. Awalnya ia tak mengakui perbuatannya, telah membeli Melati seharga Rp300 ribu dari tangan Jalil alias Bregi.

Pasalnya, ia mendapatkan Melati dari tangan Bregi. Apalagi belum dibawa ke Maumere, Melati telah dua malam tidur bersama Bregi di Kampung Nyamuk, Wangatoa. Meski sempat bersilat lidah, akhirnya Sumirah mengaku bahwa Melati telah dipekerjakan di salah satu tempat untuk memuaskan dahaga pria hidung belang.

Mendapat pengakuan itu, pada Kamis 11 Septemebr 2014, keluarga langsung menjemput Melati di Maumere. Setelah Melati dibawa ke Lewoleba, keesokan harinya, Jumat 12 September 2014, keluarga langsung melaporkan kasus traffiking itu ke Mapolres Lembata.

Menurut Brigpol Mirani, setelah menerima laporan tersebut, Jumat 12 September 2014, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan. Dalam pemeriksaan itu, Sumirah mengakui semua perbuatannya, membeli Melati seharga Rp300 ribu dari Jalil alias Bregi. Saat ini Bregi sedang dalam pengejaran aparat keamanan.

Tentang keseharian Sumirah, Mirani mengungkapkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, Sumirah berdomisili di Weri, Larantuka, Kabupaten Flores Timur (Flotim). Hanya saja, Sumirah mencari uang dengan bekerja di tempat karaoke di Maumere.

“Sumirah membawa Melati untuk bekerja di Maumere, dengan iming-iming Melati akan mendapatkan banyak uang. Melati telah bekerja di tempat karaoke itu selama lima hari, terhitung Jumat (5/9/2014) sampai Rabu (10/9/2014),” tutur Mirani.

Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, tutur Brigpol Mirani, polisi langsung menahan Sumirah untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sumirah dijebloskan ke sel sejak Sabtu (13/9/2014).

Mirani, menuturkan, dalam kasus yang menimpa Melati, polisi menjerat Sumirah dengan Pasal  6 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, juncto Pasal 55 Ayat 1 ke 1 e KUHP.

Sesuai pasal ini, tandas Mirani, oknum pelaku terancam hukuman penjara minimal tiga tahun dengan denda Rp150 juta atau hukuman penjara maksimal 15 tahun dengan denda Rp 600 juta.

Mirani menambahkan, bila tak ada halangan, berkas berita acara pemeriksaan (BAP) kasus trafficking itu akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Lewoleba.

“Berkas perkarannya sedang kami siapkan. Sesuai rencana, kami akan menyerahkan berkas itu ke kejaksaan hari Kamis (18/9/2014),” ujar Mirani.

“Sumirah sudah ditahan sejak Sabtu 13 Septeber 2014,” tandas Mirani.bbs/yayang

Tinggalkan Balasan