KY: Ngeri, Gara-Gara Bangkai Tokek Yusman Divonis Mati

Bagikan

AksaraKata.com: Terkait Vonis mati terhadap Yusman Telaumbauna dan Rasulah Hia, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) melaporkan hakim pemutus vonis mati anak di Nias, Sumatera Utara, ke Komisi Yudisial (KY). Komisioner KY Imam Anshori Saleh menuturkan vonis mati untuk anak mengerikan.

Bahkan setelah menerima laporan tersebut Imam sangat menyayangkan terkait vonis mati. Terkait itu pula Imam mengaku, pihaknya akan mempelajari laporan KontraS yang dilayangkan ke kantor KY, Jakarta, Kamis (19/3/2015) siang.

Setelah mempelajarinya dan laporan dianggap lengkap, KY akan sesegera mungkin membentuk Panel. Dan nantinya Panel yang akan memutuskan guna mempertimbangkan perlu tidaknya sebuah investigasinya.

Panel terdiri dari minimal tiga komisioner. Panel akan menelaah laporan tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi antara lain kuasa hukum terpidana mati tersebut, Yusman dan Rasulah.

Setelah bukti dikumpulkan, maka KY akan melakukan klarifikasi pada tiga hakim pemutus perkara, Sylvia Yudhiastika, Sayed Fauzan, dan Edy Siong. Ketiganya akan diminta tanggapan soal dugaan adanya ketidakcermatan dalam vonis.

“Kalau ada pelanggaran etis tentu KY akan merekomendasikan sanksi,” katanya.

Sanksi tersebut dapat meliputi sanksi ringan berupa teguran tertulis hingga saksi sedang non palu, dan sanksi berat seperti pemecatan tidak hormat. Sederetan sanksi tersebut termaktub dalam Pasal 22 D UU Kekuasaan Kehakiman.

Sebelumnya, majelis hakim dinilai tak cermat dalam menggali fakta-fakta persidangan.

“Hakim dalam berkas putusan, terlalu mengikuti rekonstruksi peristiwa yang didasarkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dakwaan yang didudga penuh rekayasa,” ujar anggota Divisi Advokasi Hak Sipil dan Politik KontraS Arif Nur Fikri seperti dilansir dari CNN Indonesia, Rabu (18/3/2015).

Sebagai hakim, seharusnya ketiganya berwenang untuk menggali fakta yang ada.

Padahal, dalam proses penyidikan, Yusman tak didampingi pengacara. Yusman ditangkap dan disidik sejak 14 September 2012.

“Ancaman yang disangkakan adalah hukuman mati. Kalau di KUHAP, harus ada pengacara,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yusman baru didampingi pengacara saat proses persidangan berdasar Surat Penetapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Gunungsitoli Nomor 02/Pen.Pid/2013/PN-GS tanggal 29 Januari 2013. Saat itu, majelis menunjuk Laka Dodo Laia dan Cosmas Dohu Amazihono sebagai penasihat hukum Yuan.

Dalam putusan Pengadilan Negeri, Yusman dan Rasulah terbukti membunuh tiga orang yakni Kolimarinus Zega, Jimmi Trio Girsang, dan Rugun Br Haloho.

Putusan yang dibacakan pada tanggal 21 Mei 2013 silam tersebut, menetapkan Yusman dan Rasulah melanggar Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juncto 55 ayat 1.Yusman dan Rasulah pun divonis pidana mati.

Dalam penelusuran KontraS, Yusman dan Rasulah bukan menjadi pelaku utama dalam pembunuhan tersebut. Saat pembunuhan terjadi pada tanggal 24 April 2012 di sebuah kebun di Nias, Yusman dan Rasulah hanya melihat kejadian pembunuhan yang dilakukan oleh empat orang pelaku.

Empat orang tersebut yakni Amosi Hia, Ama Pasti Hia, Ama Fandi Hia, dan Jeni.cnn/jpg

Tinggalkan Balasan