Lokalisasi Ditutup, Prostitusi Online Ramai Diburuh Pejabat

Bagikan

AksaraKata.com: Terbongkarnya jaringan prostitusi online ‘ekspo’ ternyata melayani kalangan pengusaha hingga pejabat. Adalah Galih Pratama (Papi Piesank) 23 tahun selaku empunya bisnis protitusi online itu tidak hanya beroperasi di Surabaya. Tapi, juga Jogjakarta dan Solo.

Usia prostitusi, konon, setua peradaban manusia. Artinya, daya hidupnya sudah sangat teruji. Karena itu, ketika ruang prostitusi konvensional terus dipersempit, prostitusi online malah tumbuh subur.

Bahkan, bentuknya terus bersalin rupa. Salah satunya berbentuk ekspo prostitusi yang dapat dibongkar unit Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polrestabes Surabaya.

Berdasar pengungkapan tersebut, polisi menangkap salah seorang mucikari bernama Galih Pratama alias Papi Piesank. Pria 23 tahun asal Desa Prapuh RT 003/RW001, Panceng, Gresik, Jawa Timur itu dibekuk polisi Jumat lalu 15 Agustus 2014 di salah satu hotel di Kedungsari, Surabaya.

“Jaringan Papi Piesank ini sudah beroperasi setahun terakhir,” kata Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sumaryono.

Jaringan prostitusi online itu memanfaatkan website www.krucil.com dalam menjalankan bisnis. Link website tersebut dipergunakan para mucikari di beberapa kota di Indonesia. Salah satunya Papi Piesank.

Lantas bagaimana yang disebut dengan ekspo prostitusi? Galih pun menerangkannya kepada polisi. Jadi, biasanya Galih membawa seorang perempuan penjaja cinta yang siap dijual ke sebuah hotel.

PSK itu lantas diinapkannya beberapa hari di sana. Nah, Galih pun melakukan ekspo beberapa hari dengan melakukan penawaran melalui website atau blackberry.

“Ekspo itu artinya bahwa dia bisa melakukan pelayanan tiga hari di kamar hotel tersebut,” ujar Papi Piesank kepada polisi.

Pria ini dibekuk setelah Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan pengintaian sejak beberapa bulan terakhir. Berdasar laporan masyarakat, polisi memantau gerak-gerik praktik prostitusi yang dilakukan Galih melalui jaringan online, www.krucil.com.

“Dari penelusuran itu, petugas melakukan penyelidikan di lapangan terkait link tersebut,” terang Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono, Minggu 17 Agustus 2014.

Menurut Sumaryono, dari pengembangan penyelidikan itulah, polisi membuntuti seorang wanita yang diduga dikirim Galih kepada salah satu pelanggannya. Tak menunggu lama, polisi langsung mengamankan si wanita penghibur ini saat saat hendak melayani pria hidung belang.

“Dia kami tangkap di salah satu hotel di Jalan Kedungsari (Surabaya),” katanya.

Dari tersangka petugas mengamankan barang bukti 2 buku tabungan, ATM, Bill Hotel, celana dalam, alat kontrasepsi yang sudah dipakai dan uang tunai Rp 5,1 juta.

Sumaryono menerangkan, dalam menjalankan aktivitasnya, Galih masuk dalam link tempat transaksinya dan tergabung bersama papi-papi atau mucikari lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kemudian, mereka (para papi) saling berhubungan untuk memperoleh wanita yang bisa melayani seks ke sejumlah pelanggannya masing-masing. Jadi bisa dibilang, para papi ini bertukar wanitanya masing-masing,” beber Sumaryono

Dari hubungan dengan papi-papi yang ada dalam link itulah, kemudian Papi Piesank menghubungi perempuan miliknya dan mengiklankannya ke dalam link. Begitu pula sebaliknya, jika Papi Piesank yang membutuhkan perempuan untuk pelanggannya, dia mendapatkan perempuan dari papi-papi yang lain.

“Sekali booking, korban (wanita penjaja seks) dibanderol Rp 750 ribu,” tandas Sumaryono.

Kepada polisi, Galih menerangkan betapa legitnya bisnis haram yang dia jalankan. Tersangka juga menyampaikan apa yang diperbuatnya, ide membuat situs penyedia PSK tersebut berawal dari kegemarannya mendownload film-film porno. Lantaran hoby dengan mendownload video porno itulah tercetus ide gilanya.

“Awalnya kami melakukan komunikasi dan mendownlod film panas, lalu tercetus ide untuk membuat sebuah perkumpulan yang menyediakan perempuan,” terang Galih di Mapolrestabes Surabaya.

“Dalam sehari, rata-rata setiap hari tamu saya mencapai enam sampai tujuh lelaki hidung belang,” kata Piesang.

Akibat perbuatan pelaku dijerat dengan Pasal 2 Undang-Undang RI Nomor 21 tahun 2007, tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dan Pasal 506 KUHP.

 

Pejabat Juga Mau yang PSG

Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Polrestabes Surabaya, membongkar jaringan prostitusi online yang ternyata ada kalangan pejabat menjadi pelangganya.

Jaringan prostitusi online ini merupakan kelas menengah ke atas. Bahkan menjadi langganan pejabat.

Menurutnya, banyak juga pejabat yang menjadi pelanggan setia yang sering “jajan” dengan PSK yang ditawarkannya.

“Ada pejabat di Surabaya ini, tapi saya tidak hafal namanya. Yang hafal teman saya,” kata Galih. Jadi, biasanya Galih membawa seorang perempuan penjaja cinta yang siap dijual ke sebuah hotel.

PSK itu lantas diinapkannya beberapa hari di sana. Nah, Galih pun melakukan ekspo beberapa hari dengan melakukan penawaran melalui website atau blackberry.

“Ekspo itu artinya bahwa dia bisa melakukan pelayanan tiga hari di kamar hotel tersebut,” ujar Papi Piesank kepada polisi.

Perempuan yang ditawarkan Piesang pun dijamin masih muda dan cantik. Ada yang berstatus mahasiswa, SPG, atau remaja-remaja yang butuh uang untuk membeli gadget.

“Tarif Rp 750 ribu untuk satu pelanggan,” ujar Galih yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan minimarket tersebut.

Cara pembayarannya, pelanggan menyetor Rp 200 ribu terlebih dahulu melalui rekening Galih. Sisanya yang Rp 550 dibayar saat eksekusi. Dari uang Rp 550 ribu itu, Rp 100 ribu diberikan kepada mucikari aslinya.

“Bagian untuk Galih atau Papi Piesank ini, ya, Rp 200 ribu itu,” jelas Sumaryono.

Polisi menyamar sebagai customer setelah melakukan penyelidikan hampir sebulan. Polisi yang menyamar itu memesan untuk slot awal pada pukul 10.00. Uang muka pun sudah ditransfer ke Papi Piesank.

Tapi, saat tiba giliran polisi yang menyaru customer tersebut, waktunya tidak dimanfaatkan meski sudah berada di hotel. Itu memang disengaja untuk penyanggongan.

Begitu slot yang sudah di-booking tersebut tidak digunakan, perempuan panggilan lalu memberi tahu Papi Piesank untuk segera menghubungi pemesan berikutnya.

Nah, saat pelanggan berikutnya masuk kamar hotel itulah, polisi melakukan penggerebekan. Saat itu polisi mengamankan sebut saja Melati, 23, asal Solo bersama teman kencannya. Tapi, keduanya kemudian dipulangkan.

Namun, sebelum memulangkan mereka, polisi memancing Papi Piesank datang ke hotel. Caranya, memanfaatkan Melati untuk menghubungi Papi Piesank agar segera mengantarkan obat ke hotel lantaran Mrs V-nya terluka.

Ironinya dalam sehari korban harus bisa melayani 3 hingga 7 lelaki hidung belang pencari cinta kilat untuk melampiaskan hasratnya.

“Begitu dia datang pukul 18.00, kami langsung mengamankannya. Kini kami pun berusaha memburu mucikari lainnya,” ujar Kade.

“Pelangganya bermacam-macam, mayoritas pengusaha. Ada juga yang pejabat pelat merah Surabaya,” kata Galih.

Namun Galih enggan menyebutkan siapa pejabat tersebut.

“Saya tidak tahu namanya, yang lebih kenal teman saya. Saya hanya tahu dia pejabat Surabaya,” kata Galih.

Prostitusi online ini menjalankan bisnisnya di sebuah website, www.krucil.com.

Di dalam website tersebut, terdapat foto dan nama gadis-gadis yang bisa ‘dipesan’.

Ketika pelanggan ingin memesan gadis tersebut, langsung berkomunikasi dengan tersangka melalui blackberry messenger (BBM) untuk bernegoisasi.bbs/yayang

Tinggalkan Balasan